{"id":467,"date":"2019-05-04T09:57:57","date_gmt":"2019-05-04T09:57:57","guid":{"rendered":"http:\/\/localhost:5656\/rizky\/menu%20sekolah\/backupwebsekolah\/?p=467"},"modified":"2019-05-04T09:58:37","modified_gmt":"2019-05-04T09:58:37","slug":"467","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wsg.jasaitnesia.com\/istimewa\/467\/","title":{"rendered":"Pendidikan Karakter Merupakan Kebutuhan Mendesak"},"content":{"rendered":"<p>Penulis: Mirza rizky ranandra<\/p>\n<p>Data tentang penyalahgunaan narkoba, prilaku seks bebas di kalangan remaja, meningkatnya kasus-kasus ketidak jujuran dan kekerasan remaja,\u00a0\u00a0 KDRT dan\u00a0 tawuran menjadi dasar betapapentingnya pendidikan karakter<\/p>\n<p>Tahun 2010\u00a0 merupakan awal\u00a0 pencanangan\u00a0 pendidikan karakter bangsa di negara kita, tepatnya pada tanggal 14 Januari 2010,\u00a0 pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional mencanangkan program \u201cPendidikan Budaya dan Karakter Bangsa\u201d sebagai gerakan nasional.\u00a0 Setelah dicanangkan program ini,\u00a0 beberapa Direktorat Jenderal dengan Direktorat-direktorat yang ada segera menindaklanjuti dengan menyusun rambu-rambu penerapan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Bahkan kementerian-kementerian lainpun juga diberi tugas untuk mengembangkan dan melaksanakan pendidikan karakter di lingkungannya. Di lingkungan Kementerian Pendidikan telah berhasil disusun \u201cDisain Induk Pendidikan Karakter\u201d. Kemudian Direktorat PSMP\u00a0 dan PSMA, Puskur juga telah membuat rancangan\u00a0 pelaksanaan dengan mengembangkan silabus yang dikaitkan dengan nilai-nilai karakter bangsa.<\/p>\n<p>Pembicaraan pendidikan karakter terjadi di mana-mana. Selama tahun 2010 sampai sekarang, hampir setiap pertemuan ilmiah, seperti diskusi, sarasehan, dan seminar, baik seminar regional,\u00a0 nasional maupun internasional mengambil tema tentang pendidikan karakter. Nampaknya program pendidikan karakter ini masih akan menjadi main stream di masa-masa berikutnya. Hal ini menunjukkan betapa urgensinya\u00a0 mengenai pendidikan karakter bagi bangsa ini, sehingga sangat tepat pemerintah melalui\u00a0 Kementerian Pendidikan Nasional mencanangkan pendidikan budaya dan karakter bangsa. Mengapa perlu pendidikan karakter, apa dan bagaimana pendidikan karakter, bagaimana peran pemerintah dan masyarakat,\u00a0 khususnya dunia pendidikan dalam pengembangan pendidikan karakter?<\/p>\n<p>Presiden SBY dalam mengawali kerjanya sebagai Kepala Pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II mengangkat isu tentang pendidikan karakter bangsa sebagai pilar pembangunan. Selanjutnya Presiden menyatakan bahwa kita harus menjaga jati diri bangsa Indonesia. Hal yang membedakan bangsa kita dengan bangsa lain di dunia adalah budaya kita, way of life dan ke-Indonesiaan kita. Ada identitas dan kepribadian yang membuat bangsa Indonesia khas, unggul, dan tidak mudah goyah.\u00a0\u00a0\u00a0 Budaya ke-Indonesiaan kita tercermin dalam sikap pluralisme atau kebhinekaan, kekeluargaan, kesatuan, toleransi, sikap moderat,\u00a0 keterbukaan, dan kemanusiaan.\u00a0 Hal-hal inilah yang harus kita jaga, kita pupuk,\u00a0 kita suburkan di hati sanubari kita dan di hati anak-anak kita.<\/p>\n<p>Pernyataan presiden tersebut mengingatkan kita semua kepada pesan Bung Karno, Presiden pertama RI.\u00a0 Bung Karno yang\u00a0 menggelorakan tema\u00a0 besar \u201cnation and character building\u201d\u00a0 pernah berpesan kepada kita bangsa Indonesia, bahwa tugas berat untuk mengisi kemerdekaan adalah membangun karakter bangsa. Pernyataan Bung Karno ini menunjukkan pentingnya pendidikan dan pembangunan karakter demi tegak dan kokohnya jati diri bangsa agar mampu bersaing di dunia global.<\/p>\n<p>Pandangan dan pernyataan dari dua pemimpin itu memberikan gambaran bahwa pendidikan karakter bangsa itu merupakan hal sangat fundamental dari kehidupanbermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu sudah selayaknya kalau pendidikan atau pembangunan karakter bangsa ini secara konstitusional mendapatkan landasan yang kuat. Negara dapat mengitervensi langsung sistem dan struktur dalam lembaga pendidikan untuk menanamkan pembentukan karakter dalam diri siswa sesuai semangat yang ingin diperjuangkan, yaitu pembentukan individu yang memiliki karakter kebangsaan berdasakan Pancasila dan UUD 1945.<\/p>\n<p>Bukan hanya sekedar keinginan pemerintah untuk mewujudkan pendidikan karakter ini, tetapi merupakan tuntutan mendesak bagi perkembangan generasi muda sekarang ini. Hal ini dapat dilihat data-data yang dipublikasikan betapa hancurnya moral generasi muda bangsa yang memerlukan perhatian semua pihak. Diantaranya dapat dilihat pada data tentang penyalahgunaan narkoba, prilaku seks bebas di kalangan remaja, meningkatnya kasus-kasus ketidak jujuran dan kekerasan remaja, KDRT, tawuran dan kasus-kasus amoral lainnya yang memprihatinkan kita.<\/p>\n<p>Penelitian Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) pada 2007 lalu menemukan, perilaku seks bebas bukanlah sesuatu yang aneh dalam kehidupan remaja Indonesia.Meningkatnya perilaku seksual pranikah di kalangan remaja diperkuat oleh data Kementerian Kesehatan 2009 dari penelitian di empat kota. Sebanyak 35,9 persen remaja punya teman yang sudah pernah melakukan hubungan seksual sebelum\u00a0 menikahBahkan, 6,9 persen responden telah melakukan hubungan seksual\u00a0 pranikah. Keempat kota itu adalah Jakarta Pusat, Medan, Bandung, dan Surabaya. Data ini hasil penelitian\u00a0 Komnas Perlindungan Anak. Dilaporkan selama Maret- April 2009 dari hasil penelitian tersebut 18 siswi SMP di Jakarta Barat menyambi sebagai PSK selepas sekolah. Di Karawang ditemukan 113 siswi berusia 15-18 tahun menjadi PSK.\u00a0 Keadaan demikian dilaporkan karena beberapa faktor diantaranya karena broken home, lemahnya kontrol orang tua, hedonisme, konsumerisme. Dunia seks bagi kalangan remaja masih misterius dan ditutup-tutupi. Bagi mereka yang tidak mengerti akan salah melangkah dan terjerumus dalam seks bebas.\u00a0 Data kehamilan remaja di Indonesia menunjukkan hamil di luar nikah karena diperkosa sebanyak 3,2 %; karena sama-sama mau sebanyak 12,9 % dan tidak terduga sebanyak 45 %. Seks bebas sendiri mencapai 22,6 %.<\/p>\n<p>Hal ini juga digambarkan penderita AIDS dam HIV di Indonesia bertambah terus akibat penyimpangan perilaku seksual.\u00a0 Menko Kesra (2006) menyatakan\u00a0 bahwa tidak ada satu provinsipun di Indonesia yang terbebas dari HIV\/AIDS. Jumlah penderita\u00a0 HIV\/AIDS sampai Maret 2005 mencapai 10.156 orang, perkembangan menunjukan 10 % lebih perbulan pada tahun 2005.\u00a0 Juni 2005 sebanyak 7.090 orang, meningkat pada bulan Setember menjadi 8.250 orang, Desember 9.565 orang dan Maret 2006 menjadi 10.156. Bayangkan saja kalau kondisi ini tidak berubah pada saat ini bisa dua atau tiga kali lipat penderita HIV\/AIDS. Pada umumnya mereka berusia muda, lebih dari separuhnya berusia 20-29 tahun. Dengan penularan 50.1% melalui jarum suntik. Di AS dilaporkan pergaulan bebas (free sex) terjadi 8:10 remaja putra telah melakukan seks bebas dan 7:10 untuk remaja putri. Dilaporkan pula provinsi terbanyak adalah: Jakarta, Papua, Jatim, Jabar, Bali, Riau, Sulsel, Sumut dan Jateng. Data pendetita HIV pada tahun 1993 menurut WHO dilaporkan sebanyak 14 juta orang dan akhir abad 20\u00a0 mencapai 40 juta yang terkena HIV. Kasus HIV\/AIDS di Indonesia dilaporkan sampai\u00a0 September 2014 total penderita\u00a0\u00a0 HIV sebanyak 150.285\u00a0 orang dan\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 AIDS\u00a0 sebanyak\u00a0\u00a0\u00a0 55.799 orang, padahal pada tahun 2010 penderita HIV hanya\u00a0 21.031 dan AIDS sebanyak 7.312 orang. Semua\u00a0 provinsi telah terjangkit HIV\/AIDS, DKI merupakan provinsi yang tertinggi (HIV = 32.782 dan AIDS = 7.477),\u00a0 kedua\u00a0 Papua (HIV = 16.051 dan AIDS = 10.184),\u00a0 ketiga Jawa Timur (HIV = 19.249 dan AIDS = 8.976), keempat Jawa Barat (HIV = 13.507\u00a0 dan AIDS =\u00a0 4.191) dan kelima Bali (HIV = 9.637 dan AIDS = 4.261).<\/p>\n<p>Jumlah penyalahgunaan narkoba di Indonesia mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Hasil penelitian tahun 2008 jumlah penyalahguna narkoba mencapai 3,3 juta orang. Kemudian tahun 2011 menjadi 3,8 juta orang dan di 2013 mencapai lebih dari 4 juta orang, data terakhir 2015 pengguna narkoba di Indonesia mencapai 5 jutaan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Penelitian yang dilakukan Asian Harm Reduction Network (AHRN) terhadap remaja pengguna narkoba menemukan bahwa mereka mengkonsumsi narkoba pada umur 9 tahun. &#8220;Kebanyakan memulai dengan mengkonsumsi boti (obat tidur) seperti diazepam atau valium. Sisanya memulai dengan konsumsi ganja,&#8221; Kepala Proyek Penelitian AHRN dalam presentasi\u00a0 hasil\u00a0 penelitiannya melaporkan adanya peningkatan penggunaan narkoba di usia yang semakin dini. Dari 500 lebih responden remaja pengguna narkoba, termasuk pelajar dan mahasiswa, yang diwawancarai, separuhnya atau 50 persen memulai penggunaan narkoba pada umur 9-15 tahun.<\/p>\n<p>Tawaruan remaja antar kampung ataupun pelajar antar sekolah menjadi tontonan kita\u00a0 setiap hari menunjukan sikap brutal dan emosional remaja kita semakin\u00a0 menghawatirkan. Pada tahun 1996 terjadi tawuran di Jakarta 150 kali, meninggal 19 orang luka 26 orang, tahun 1997 terjadi 121 kali tawuran dengan jumlah yang meninggal 15 orang dan luka 24 orang. Pada tahun 1998 meningkat hampir dua kali lipat yang jumlahnya mencapai 230 kali dengan\u00a0 jumlah meninggal 15 dan luka 34. Pada tahun 1999 menurun menjadi 64 kali, tetapi jumlah yang meninggal hanya turun sedikit yaitu sebanyak\u00a0 12 orang dan yang luka meningkat menjadi 36 orang. Setidaknya 17 remaja tewas dalam tawuran di wilayah Jabodetabek sejak 1 Januari 2012 hingga 26 September 2012. &#8220;Jumlahnya meningkat dari 2011 yang sebesar 12 orang tewas,&#8221; ujar Ketua Divisi Sosialisasi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Asrorun Ni&#8217;am, di Jakarta, Rabu, 27 September 2012. Pada tahun 2010 di Jabodetabek\u00a0 terjadi tawuran\u00a0 102 kasus, Luka ringan 54, luka berat 31, meninggal dunia 17 orang, selanjutnya tahun 2011 ada 96 kasus tawuran, luka ringan 62, luka berat 22, meninggal dunia 12 orang dan pada tahun 2012 terdapat 103 kasus, luka ringan 48, luka berat 39, meninggal dunia 17.<\/p>\n<p>Secara umum kerusakan moral ini terjadi dimana-mana seperti yang dikemukakan Lickona seorang profesor pendidikan dari Cortland University mengungkapkan bahwa ada sepuluh tanda-tanda jaman yang harus diwaspadai karena jika tanda-tanda ini sudah ada, maka itu berarti bahwa sebuah bangsa sedang menuju jurang kehancuran. Tanda-tanda yang dimaksud adalah :<\/p>\n<ol>\n<li>Meningkatnya kekerasan di kalangan remaja;<\/li>\n<li>Penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk;<\/li>\n<li>Pengaruh peer-group yang kuat dalam tindak kekerasan;<\/li>\n<li>Meningkatnya perilaku merusak diri, seperti penggunaan narkoba, alkohol dan seks bebas;<\/li>\n<li>Semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk;<\/li>\n<li>Menurunnya etos kerja;<\/li>\n<li>Memakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru;<\/li>\n<li>Rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga Negara;<\/li>\n<li>Membudayanya ketidakjujuran;<\/li>\n<\/ol>\n<p>Adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama.<\/p>\n<p>Pembukaan UUD 1945 dan Pancasila telah memberikan landasan yang begitu mendasar, kokoh dan komprehensif. Selanjutnya secara operasional di dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang\u00a0 Nasional tahun 2005-2025. ditegaskan bahwa misi pertama pembangunan\u00a0 nasional adalah terwujudnya\u00a0 karakter bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, dan bermoral berdasarkan Pancasila, yang dicirikan dengan watak dan perilaku manusia dan masyarakat Indonesia yang beragam, beriman dan bertakwa kepada tuhan YME, berbudi luhur, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, dan berorientasi ipteks.<\/p>\n<p>Sebenar pendidikan karakter bukan hal yang baru dalam dunia pendidikan, karena pada hakekatnya suatu pendidikan adalah membentuk karakter manusia agar mampu menjadi orang dewasa yang dapat berkarya dan berprilaku sesuai tuntutan jamannya untuk menuju kesejahteraan hidup.\u00a0 Hal ini terlihat dari konsep pendidikan dari para perintis pendidikan bangsa ini seperti\u00a0 halnya Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.\u00a0\u00a0 Hal ini sejalan pula dengan definisi pendidikan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pendidikan berasal dari kata dasar didik (mendidik), yaitu : memelihara dan memberi latihan (ajaran, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedangkan pendidikan mempunyai pengertian : proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perbuatan, cara mendidik.<\/p>\n<p>Pendidikan karakter inipun sudah menjadi perhatian para tokoh dunia, seperti Mahatma Gandhi memperingatkan tentang salah satu tujuh dosa fatal, yaitu \u201ceducation without character\u201d (pendidikan tanpa karakter).Martin Luther King\u00a0 sebagaimana dikutif Lickona, berkata: \u201cIntelligence plus character\u2026.that is the goal of true education\u201d (Kecerdasan plus karakter\u2026.itu adalah tujuan akhir dari pendidikan sebenarnya).Juga Theodore Roosevelt sebagaimana dikutif Lickona, mengatakan: \u201cTo educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society\u201d (Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara-bahaya kepada masyarakat).<\/p>\n<p>Namun sayang dalam pelaksanaan pendidikan di lapangan, rumusan tujuan pendidikan nasional yang begitu komprehensip itu tidak sepenuhnya dipedomani. Secara formal sebenarnya telah muncul kesadaran bahwa misi utama pendidikan\u00a0 tidak sekedar membuat peserta didik pintar otaknya, tetapi juga berkarakter baik. Tetapi dalam kenyataannya penyelenggaraan pendidikan kita lebih pragmatis dan masih tetap menekankan pada penguasaan materi ajar.\u00a0 Di lembaga pendidikan formal, penyelenggaraan pendidikan lebih banyak sebagai proses pengembangan ranah kognitif, dan membangun\u00a0 kecerdasan intelektual, sehingga pendidikan kita lebih bersifat intelektualistik. Sementara dari segi kualitas, pendidikan kita masih juga sering dipertanyakan. Menurut Anhar Gonggong\u00a0 bahwa sampai sekarang \u201cbentuk karakter\u201d sebagai bangsa merdeka belum juga kita temukan, Bahkan dalam periode reformasi ini, ditenggarai oleh sementara pihak bahwa karakter bangsa negara kita makin terpuruk.<\/p>\n<p>Sekolah sebagai ujung tombak dalam proses pembentukan karakter, disamping keluarga dan masyarakat. Maka sekolah harus\u00a0 mengambil peranannya dalam pendidikan karakter ini. Peranan sekolah ini tak diragukan lagi sebagai lembaga yang membentuk karakter bangsa.\u00a0 Upaya sekolah dalam membentuk karakter bangsa ini harus berkerja sama dengan stakeholders. Mulai dari pemerintah sebagai pemangku kebijaksanaan, masyarakat\u00a0 baik sebagai objek ataupun subjek\u00a0 dalam pendidikan karakter, maupun lembaga-lembaga lain yang terkait dan bertangung jawab atas perkembangan karakter ini.\u00a0\u00a0\u00a0 Proses pendidikan yang begitu komprehensif, sebagai rancangan rekayasa pembentukan karakter yang baik, dengan melibatkan semua komponen yang bertanggung jawab terhadap penyelenggarakan pendidikan. Dengan format yang demikian itu, maka pengembangan pendidikan karakter telah mendorong penyelenggaraan pendidikan yang sesungguhnya, sebagaimana\u00a0 diamanatkan oleh UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003. Namun pelaksanaannya belum menunjukan hasil yang memuaskan seperti dikemukakan Jimly Asshiddiqie bahwa pendidikan kita tidak berhasil membentuk sikap dan karakter, dan tidak juga membangun kapasitas kemampuan teknis untuk melakukan serta menerapkan pengetahuan dan sikap-sikap yang dimiliki dalam praktik.<\/p>\n<p>Sekolah sebagai garda terdepan dalam pendidikan karakter bangsa harus mempunyai program pendidikan karakter yang dipadukan dalam kegiatan sekolah baik melalui kurikuler, maupun ekstrakurikuler. Program adalah suatu rencana yang melibatkan berbagai unit\u00a0 yang berisi kebijakan dan rangkaian kegiatan yang harus dilakukan dalam kurun waktu tertentu.\u00a0 Program pendidikan karakter adalah suatu perencaan\u00a0 sekolah yang dibuat dalam upaya pengembangan karakter\u00a0 bagi peserta didik melalui kegiatan kurikuler, maupun ekstrakurikuler.<\/p>\n<p>DAFTAR PUSTAKA<\/p>\n<p>Koesuma A., Doni.\u00a0 Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak\u00a0 di Zaman Global.\u00a0 Jakarta: Grasindo,2007.<\/p>\n<p>Clarke, Alan dan Ruth Dawson. Evaluation Researsch at Introduce to Principles Methode and Prantice. London: Sage Publication Ltd., 1999.<\/p>\n<p>Asshiddiqie, Jimly.\u00a0 \u201cMembangun Karakter Bangsa.\u201d Makalah, Seminar Membangun Karakter Manusia Indonesia. Jakarta: PPS UNJ, 26 November 2010.<\/p>\n<p>Gonggong, Anhar.\u00a0 \u201cKarakter Bangsa Majemuk Indonesia.\u201d\u00a0 Makalah, Seminar Membangun Karakter Manusia Indonesia. Jakarta: PPS UNJ.\u00a0 26 November 2010.<\/p>\n<p>Dewantara, Ki Hadjar. Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, 1977.<\/p>\n<p>Pusat Kurikulum dan\u00a0 Perbukuan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Nasional. Panduan: Pelaksanaan Pendidikan Karakter. Jakarta: Kementrian Pendidikan Nasional, Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum dan\u00a0 Perbukuan, 2011.<\/p>\n<p>Lickona, Thomas. Education for Charater: How Our Schools\u00a0 Can Teach Respect and Responsibility.\u00a0 New York: Batam Books, 1998.<\/p>\n<p>Wartawan Tempo. \u201cSetahun 17 Pelajar Tewas Karena Tawuran.\u201d http:\/\/www. tempo.com (diakses 27 September 2012).<\/p>\n<p>Wartawan Kompas.\u00a0 \u201cRemaja Jakarta Mengkonsumsi Narkoba pada Umur 9 Tahun.\u201d Harian Kompas, 17 Pebruari 2005.<\/p>\n<p>Wartawan Pos Kota (Aby\/Dms). \u201cPerilaku Seksual Remaja Kian Mengkhawatirkan.\u201d Poskota, 6 Nopember 2012.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Saputra, Ari.\u00a0 \u201c22,6 % Remaja Indonesia Penganut Seks Bebas.\u201d http:\/\/www.detik.com\u00a0 (diakses 31 Mei 2007).<\/p>\n<p>Direktorat Jenderal PP &amp; PL Kemenkes RI. \u201cStatistik Kasus HIV\/AIDS di Indonesia.\u201d\u00a0 http:\/\/spiritia.or.id\/Stats\/StatCurr.pdf (diakses\u00a0 5 Desember 2014).<\/p>\n<p>Anggriawan, Fiddy.\u00a0 \u201cBNN\u00a0 Khawatir\u00a0 dengan\u00a0 Jumlah\u00a0 Pengguna\u00a0 Narkoba\u00a0 di\u00a0 Indonesia.\u201d http:\/\/www.Okezone.com (Diakses 23 Januari 2014).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis: Mirza rizky ranandra Data tentang penyalahgunaan narkoba, prilaku seks bebas di kalangan remaja, meningkatnya kasus-kasus ketidak jujuran dan kekerasan &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":468,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[22],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wsg.jasaitnesia.com\/istimewa\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/467"}],"collection":[{"href":"https:\/\/wsg.jasaitnesia.com\/istimewa\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wsg.jasaitnesia.com\/istimewa\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wsg.jasaitnesia.com\/istimewa\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wsg.jasaitnesia.com\/istimewa\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=467"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wsg.jasaitnesia.com\/istimewa\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/467\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wsg.jasaitnesia.com\/istimewa\/wp-json\/wp\/v2\/media\/468"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wsg.jasaitnesia.com\/istimewa\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=467"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wsg.jasaitnesia.com\/istimewa\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=467"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wsg.jasaitnesia.com\/istimewa\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=467"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}